Hubungan Agama dan Stratifikasi Sosial
Nurun Nadzifah (16110047), Zuhrotun Nisa’ (16110076)
Mahasiswa UIN Maliki Malang
Abstract
The sociology of religion is two interesting contexts of discussion
which unite between sociology and religion. Sociology means learning social
activity whereas religion means that both religions have special relevance in
life. The existence of the fact that society consists of various social layers that
can indicate the high level of society in a particular group or community. In
this case the layers of society in the religious view or can be called with the
religious community occurs on the encouragement of several factors. Specific
formative factors such as heredity, mastery of religious science, the level of
piety, the position in a religious institution and way of thinking and many
others. Likewise with the religions that exist in Indonesia is also a variety
of cultures, rules, customs are applied so that the community demands to
follow. People who follow one religion must obey all the customs, especially in
the social stratification that has been determined since the first.
Keywords: 5 Religion, social stratification
Abstrak
Sosiologi agama merupakan dua konteks pembahasan yang menarik
dimana menyatukan antara sosiologi dan agama. Sosiologi berarti mempelajari
aktifitas sosial sedangkan agama berarti religion hubungan kepada Tuhan keduanya
mempunyai keterkaitan khusus dalam kehidupan. Adanya kenyataan bahwasannya
masyarakat terdiri dari berbagai lapisan sosial yang dapat menunjukkan tinggi
rendahnya kedudukan masyarakat dalam suatu kelompok atau masyarakat tertentu.
Dalam hal ini lapisan masyarakat dalam pandangan agama atau bisa disebut dengan
masyarakat agama terjadi atas dorongan beberapa faktor. Faktor formatif
tertentu misalnya keturunan, penguasaan ilmu keagamaan, tingkat keshalehan,
jabatan dalam suatu lembaga keagamaan serta cara berpikir dan masih banyak yang
lain. Begitupun dengan agama-agama yang ada di indonesia juga bermacam ragam
kebudayaan, aturan, adat yang diterapkan sehingga menuntut masyarakat untuk
mengikutinya. Masyarakat yang menganut salah satu agama harus menaati semua
adat yang ada terutama dalam stratifikasi sosial yang sudah ditentukan sejak
dahulu.
Kata kunci: 5 Agama, stratifikasi sosial
A. Pendahuluan
Merupakan sebuah keyakinan akan adanya Tuhan sang pencipta alam
semesta. Begitu indah anugerah yang diberikan kepada umatnya, dengan alasan
inilah adanya sebuah agama. Negara Indonesia yang terkenal akan kekayaan sumber
daya alam yang melimpah serta kebudayaan yang beragam tidak lepas dari peran
masyarakat beragama. Agama mengajarkan kebaikan kepada seluruh penghuni alam
untuk tidak hanya menikamti akan tetapi ikut merawat, menjaga serta
melestarikan tanpa merusaknya.
Berbicara mengenai sebuah agama, Indonesia termasuk negara yang
menganut banyak keyakinan. Bukti diakuinya keberadaan lima agama di Indonesia
antara lain Islam, Kristen, Budha, Hindu, Konghucu. Menjadikan indonesia lebih
beragam selain kebudayaan dan keanekaragaman sumber daya alam nya. Begitupun
dalam bermasyarakat tidak lepas dari konteks beragama. Bahkan, dalam kajian
sosiologi agama pun dibahas mengenai hal ini. Dua komponen yang tidak bisa
terpisahkan karena sangat erat hubungannya dengan masyarakat sosial yang
beragama.
Masyarakat sosial dan beragama tidak lepas dari istilah Social
Stratification atau yang sering disebut dengan stratifikasi sosial.
Membahas lapisan-lapisan yang ada di masyarakat, lapisan ini berupa kedudukan
serta peran masyarakat sebagai umat beragama. Mulai dari jabatan, keluasan ilmu
sampai peranan didalamnya turut diatur dalam hal ini.
B. Agama dalam pandangan sosiologis
Dalam definisinya pengertian agama tidak akan ada habisnya, sangat
bermacam dalam berbagai sudut pandang. Akan tetapi kita tidak bisa mengatakan
bahwasannya rumusan atau pengertian agama itu tidak perlu. Sebab, dalam
definisi agama mengandung unsur yang sangat luas terutama dalam konteks
kehidupan beragama. Tugas sosiologi agama bukan untuk mengartikan secara esensi
metafisik agama, tetapi hanya mempelajari dari aspek sosialnya.[1]
Pengertian ini dapat diperoleh jika seseorang mempunyai pengetahuan tentang
subyeknya sosiologi dan agama. Kajian yang berusaha menemukan prinsip umum
mengenai hubungan agama dan masyarakat hal inilah yang sering disebut sosiologi
agama.[2]
Istilah pedoman hidup identik dengan arti sebuah agama meskipun
masing-masing agama mempunyai definisi yang lain menegani hal ini. Contohnya
saja didalam ajaran agama hindu “agama” mengandung pengertian satya, arta,
diksa, tapa, brahma, dan yajna. Satya adalah kebenaran yang absolut. Arta
adalah dharma atau perundang undangan yang mengatur hidup manusia. Diksa
mempunyai arti penyucian. Tapa adalah semua perbuatan suci. Brahma adalah doa
atau mantra-mantra.[3]
Tidak hanya dalam pandangan agama hindu saja, melainkan agama-agama yang lain
juga mempunyai arti serta makna dari agama itu sendiri.
Emile Durkheim mencoba mencari esensi agama dengan tidak
mensyaratkan suatu kepercayaan. Menurutnya kesucian, dan perubahan sikap
merupakan syarat bagi seseorang sebelum ia memasuki ritual keagamaan. Manusia
dihadapkan dengan objek sakral atau berada dalam kondisi ritual keagamaan dalam
kehidupan sehari-hari hal ini yang menyebabkan seseorang mengalami pergerseran
psikologis dan durkheim mengambil kesimpulan bahwa tidak semua pengalaman yang
menakjubkan serta sakral identik dengan karakter suatu agama.[4]
Agama berkaitan erat dengan keadaan masyarakat yang dapat mengukur
usaha-usaha seberapa dalam makna dan keberadaannya dialam semesta ini. Agama
telah menimbulkan khayalnya yang paling luas dan juga digunakan untuk
membenarkan kekejaman orang yang luar biasa terhadap orang lain.[5]
C. Stratifikasi sosial
Stratifikasi sosial atau pelapisan sosial berasal dari kata stratus
yang mempunyai arti lapisan atau berlapis-lapis sehingga dapat didefinisikan
sebagai lapisan masyarakat. Dalam hal ini sering digunakan sebagai kiasan untuk
menggambarkan bahwa dalam tiap kelompok terdapat perbedaan kedudukan seseorang
dari yang berkedudukan tinggi sampai yang berkedudukan rendah. Seperti yang
terjadi pada agama hindu antara lain brahmana, ksatria, waisya dan sudra. Pada
masyarakat pedesaan di indonesia dijumpai orang-orang yang dianggap tergolong stratifikasi
atas yaitu guru-guru, pamong desa, ulama yang berkedudukan sebagai key status
pada lingkungan masing-masing. Tetapi dalam komunikasi mereka itu justru yang
merupakan orang-orang yang menjadi teladan dan tempat bertanya bagi masyarakat.[6]
Macam-macam stratifikasi:
1)
Stratifikasi
terbuka
Anggota
kelompok yang satu ada kemungkinan besar untuk berpindah ke kelompok yang lain,
artrinya dapat menurun ke kelompok yang lebih rendah atau sebaliknya. Contoh:
kedudukan presiden dan menteri. Anak-anak presiden dan menteri belum tentu
dapat mencapai kedudukan sebagai presiden atau menteri. Tetapi sebaliknya warga
masyarakat pada umumnya ada kemungkinan dapat memiliki kedudukan seperti tersebut diatas.
2)
Stratifikasi
tertutup
Kemungkinan
pindah seorang anggota kelompok dari golongan yang satu ke golongan yang lain
kecil sekali, sebab biasanya sistrem ini didasarkan atas keturunan. Jadi
misalnya anak-anak keturunan brahmana, dengan sendirinya akan tetap menjadi
golongan brahmana, dan sebaliknya golongan sudra
Ditinjau dari segi psikologis kedua kelompok ini mempunyai
keburukan dan kebaikan. Stratifikasi terbuka lebih dinamis (progresif), dan
anggota-anggota mempunyai cita-cita hidup yang lebih tinggi. Stratifikasi
tertutup bersifat statis, lebih-lebih golongan bawah dan kurang menunjukkan
cita-cita yang tinggi. Sedangkan kelemahan stratifikasi terbuka ialah bahwa
anggota-anggotanya mengalami kehidupan yang selalu tegang dan khawatir.
Sehingga akibatnya lebih banyak mengalami ketegangan dan konflik-konflik jiwa
lebih besar daripada kelompok tertutup.[7]
Dari apa yang diureaikan diatas, akhirnya dapat disimpulkan bahwa
ukuran atau kriteria yang biasanya dipakai untuk menggolong-golongkan anggota
masyarakat kedalam lapisan-lapisan sosial adalah sebagai berikut:
1.
Ukuran
kekayaan: ukuran kekayaan (kebendaan) dapat dijadikan suatu ukuran; barangsiapa
yang mempunyai kekayaan paling banyak, termasuk kedalam lapisan sosial teratas.
Kenyataan tersebut, midsalnya berupa mobil pribadinya, cara-cara mempergunakan
pakaian serta bahan pakaian yang dipakainya, kebiasaan untuk berbelanja
barang-barang mahal, dan sebagainya.
2.
Ukuran
kekuasaan: barangsiapa yang memiliki kekuasaan atau mempunyai wewenang
terbesar, menempati lapisan sosial teratas.
3.
Ukuran
kehormatan: ukuran kehormatan mungkin terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan atau
kekuasaan. Orang yang paling disegani dan dihormati, mendapatkan atau menduduki
lapisan sosial teratas. Ukuran semacam ini banyak dijumpai pada masyarakat
tradisional. Biasanya mereka adalah golongan tua atau mereka
4.
Ukuran
ilmu pengetahuan: ilmu pengetahuan diapakai ukuran oleh masyarakat yang
menghargai ilmu pengetahuan. Ukuran ini kadang-kadang menyebabkan menjadi
negatif, karena ternyata bahwa bukan ilmu pengetahuan yang dijadikan ukuran,
akan tetapi gelar kesarjanaannya. Sudah tentu hal ini mengakibatkan segala
macam usaha untuk mendapat gelar tersebut walaupun secara tidak halal.[8]
D. Hubungan
Agama dan Stratifikasi Sosial
a.
Hindu
Kasta Brahmana
mempunyai prioritas untuk memimpin ritus keagamaan dan berstatus tinggi dalam
lapisan masyarakat. Adanya tinggi rendah kasta kadang-kadang menimbulkan
pertanyaan maknawi, yang untuk orang lain sukar dimengerti. Misalnya, seorang
dari kasta Sudra yang rajin, jujur, dianggap tidak layak untuk memimpin ritual
keagamaan.
Moralitas
ketidaksamaan sosial seperti itu dibenarkan oleh doktrin reinkarnasi agama
Hindu, tentang nasib akhir individu secara spiritual. Tujuan spiritual dalam
ajaran Hindu adalah penggabungan kembali jiwa individunya atau atman dengan
jiwa dunia semesta atau Brahmana. Untuk mencapai tujuan itu individu ditentukan
oleh dharma atau amalnya. Karmanya atau nasibnya pada setiap tingkat kehidupan
dianggap sebagai hasil dari dharmanya dahulu sebelum ber-reinkarnasi.
Doktrin
reinkarnasi mengajarkan bahwa seseorang individu yang meninggal , rohnya akan
menjelma menjadi makhluk yang lebih tinggi atau lebih rendah derajatnya dari
semula. Tinggi rendahnya derajat pada penjelmaan kehidupan kemudian, tergantung
kepada baik buruknya dharma atau amalnya dahulu. Tampak jelas bahwa
stratifikasi sosial di masyarakat Hindu mendapat dukungan atau pencerminan dari
doktrin agamanya.
Contoh lain
hubungan ajaran agama dengan stratifikasi sosial, Nampak pada kasus asumsi
antropologis tentang superioritas orang kulit putih. Ketika asumsi ini di
tentang orang, banyak orang Inggris juga orang Amerika berusaha mencari alasan
moral dan pembenaran pada ayat Al-Kitab, yang menyatakan bahwa tuhan telah
menciptakan berbagai ras manusia. Bahwa menurut kebijaksanaan Sang Pencipta,
ras-ras itu diciptakan dengan tingkatan yang berbeda-beda[9].
b.
Agama
Budha
Agama Buddha
berasal atau lahir di negara India sebagai perwujudan terhadap agama Hindu.
Pelopornya adalah Siddhartha Gautama yang dikenal sebagai Gautama Buddha oleh pengikut-pengikutnya.
Ketika kali pertama mengajarkan agamanya, ia mendapatkan banyak pengikut. Hal
ini dikarenakan ia segera mengingat
Agama Brahma sedang merosot pada saat itu. Masa kejayaan yang dialaminya ialah antara
tahun 2000 hingga 800 M, kemunduran yang dialami ajaran agama Buddha yakni
selama 4 abat berikutnya. Meskipun Agama buddha mengalami kemunduran dinegara
kelahirannya, namun di luar India justru semakin berkembang dan masih kuat
hingga saat ini, yakni di negara Thailand dan China.
Ajaran Buddha
sampai ke negara China pada 399 M. oleh seorang sami bernama Fa Hsien.
Masyarakat China mendapat pengaruh dari Tibet disertai penyesuaian dengan
tuntutan dan niali setempat. Kitab rujukan utama penganut Buddha ialah Lotus
Sutra dengan menjelma sebagai seorang tokoh yang diberi watak Kuan Yin yang
berarti “mata cemerlang”. Ia diberi sifat-sifat keibuan, yakni penyayang dan
lemah-lembut. Selain Kuan Yin, orang Cina juga mempunyai tokoh Buddha yang lain
yaitu Amitabha atau Amida yang dianggap sebagai “Surga Barat” yang membawa
kesejahteraan bagi penganutnya. Ini merupakan paham Buddha yang paling disukai
oleh orang Cina.
Dari China,
ajaran Buddha terus meluas ke Korea. Pada pertengahan abad V M mulai masuk ke
Birma, kemudian Jepang, dan Thailand. Pada abad VII M Buddha masuk ke Indonesia
(waktu itu melalui Sriwijaya), dan 1 abad berikutnya mulai masuk ke tanah Jawa.
Diantara ajarannnya adalah:
1.
Buddha
bukan satu bentuk kepercayaan tetapi lebih merupakan ajaran falsafah karena
tidak ada konsep ketuhanan dan persoalan ghaib, kecuali bagaimana untuk menyerapi
hidup tanpa bermasalah.
2.
Penganutnya
diwajibkan menjalani kehidupan sebagai sami untuk satu tempo tertentu dalam
hidup mereka. Mereka tidak dibenarkan berkawin, dan perlu menjalani hidup
sebagai rahib.
3.
Perempuan
boleh menjadi rahib.
4.
Bertapa
di kuil dengan menjadi sami atau rahib merupakan alternative bagi masalah yang
tidak terselesaikan.
5.
Agama
Buddha dijadikan alat pelarian atau escapis.
6.
Mereka
merayakan Hari Raya Waisak.[10]
c.
Agama
Nasrani
Istilah Nasrani
berasal dari nama Kota Nazareth. Dalam bahasa Arab kata tersebut disebut
Nashirah, yaitu sebuah desa terpencil di kaki sebuah bukit sebelah selatan
Yerusallem. Di Yerusallem inilah terletak Baitul Maqis yang dianggap sebagai
rumah suci bersejarah baik bagi umat Islam, Yahudi, maupun Nasrani sendiri.
Agama Nasrani juga disebut Agama Nazareth karena ia dibawa oleh Yesus yang
berasal dari Nazareth. Agama ini juga disebut Agama Kristen. Nama tersebut
diambil dari nama Kristus yang merupakan gelar kehormatan keagamaan bagi Yesus.
Kristus merupakan Bahasa Yunani, dari perkataan Messias dalam Bahasa Ibrani,
yang berarti “yang diurapi”. Istilah ini berasal dari kebiasaan Israil kuno
yang tidak memahkotai raja-raja, namun cukup dengan mengurapinya. Pengangkatan
kehormatan raja ini dilakukan atas perintah Yahweh. Yahweh merupakan Tuhan dari
Bangsa Agama Nasrani dirisalahkan kepada Nabi Isa a.s yang secara nasab
merupakan anak Maria (Maryam) dari suku Bani Yuda, dan berasal dari keturunan
Nabi Dawud. Menurut Injil atau perjanjian baru, ayah Nabi Isa adalah Yusuf
an-Najar, dan bahwa ia hamil dari Ruhul Kudus. Isa diangkat menjadi Rasul dalam
usia 30 tahun. Bangsa Yahudi banyak yang tidak mempercayai kebenaran
risalahnya, sehingga mereka memutuskan memutuskan Isa al-Masih harus dihukumi
mati dan menyerahkan hukumannya kepada para Pontius Pilatus, Gubernur Romawi.
Isa al-Masih akhirnya mati disalib di sebuah tempat bernama Golgota. Berbeda
sengan Injil, al-Qur’an menyatakan bahwa yang mati disalib adalah bukan Isa
al-Masih sendiri namun orang lain yang diserupakan (QS. An-Nisa’; 157). Ada
pendapat dikalangan Muslim bahwa orang yang diserupakan tersebut bernama Yudas
Israiliyat.
Pendeta-pendeta
asing. Di kalangan agama Kristen baik Katolik maupun Prostestan terdapat banyak
pendeta dan pastur dari bangsa asing, terutama dari Eropa dan Amerika. Para
pendeta itu kadangkala menjadi pemimpin dalam keuskupan dan wilayah gerejani.
Kehidupan mereka menarik untuk diteliti secara mendalam. Aspek-aspek kehidupan
para pendeta asing yang bisa dijadikan focus penelitian, diantaranya peranan
mereka dalam penyebaran agama Kristen di Indonesia, hubungan pendeta asing
dengan pendeta pribumi, dan tanggapan umat Kristiani terhadap pendeta pendeta
asing.[11]
Kitab suci yang
disampaikan kepada Nabi Isa adalah Injil. Ajaran pokok Agama Nasrani, khususnya
Katolik, yang ada sekarang adalah sebagaimana yang tersurat di dalam syahadat
12 (Credo para rasul), yaitu:
1.
Aku
percaya akan Allah , Bapa yang mahakuasa, pencipta langit dan bumi.
2.
Dan
akan Yesus Kristus, Puteranya yang tunggal Tuhan kita.
3.
Yang
dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh perawan Maria.
4.
Yang
menderita sengsara dalam pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, wafat dan
dimakamkan.
5.
Yang
turun ke tempat penantian, pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati.
6.
Yang
naik ke surge duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang Mahakuasa.
d.
Agama
Islam
Islam adalah
agama yang dirisalahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Muhammad lahir pada 571 M di
kota Mekkah. Setelah berusia 40 tahun, Muhammad diangkat menjadi seorang rasul
melalui wahyu yang disampaikan oleh malaikat Jibril. Setelah diangkat sebagai
rasul pembawa syariat Allah. Muhammad menyiarkan Agama Islam kepada kaumnya di
Jazirah Arab. Secara perlahan Islam kemudian menyebar kesegala penjuru belahan
dunia hingga sekarang.
Kitab suci
Agama Islam adalah al-Qur’an yang mengandung hal-hal yang berhubungan dengan:
1.
Tauhid;
Yakni kepercayaan kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya,
hari kiamat, serta Qodha dan Qadar.
2.
Pekerjaan
hati dan gerak-gerak yang mendorong kea rah kesempurnaan budi pekerti yang
luhur.
3.
Hal-hal
yang berhubungan dengan pengabdian anggota jasmani, yang berhubungan dengan
hokum-hukum segala perintah Allah dan segala larangan-Nya.
Berbagai peranan dalam keagamaan
a.
Ulama
atau pendeta, sebagai pemimpin agama, tentu mempunyai kharisma dan kewibawaan
yang tecermin dari adanya ketaatan umat dalam melaksanakan perintah agama.
Setiap pemimpin agama akan mempunyai interpretasi yang khas tentang ajaran
agamanya. Maka penelitian terhadap variasi pemikiran pemimpin agama tersebut
merupakan hal yang menarik.
b.
Peranan
pengajar agama dan ahli dakwah. Pengajar agama adalah orang yang mempunyai
kekhususan dalam bidang pengalaman keagamaan. Mereka mempunyai status tertentu
di masyarakat; latar belakang Pendidikan pengajar agama akan berpengaruh
terhadap keberhasilan kerjanya. Penelitian bisa dilakukan, misalnya, terhadap
juru dakwah yang disenangi masyarakat desa atau masyarakat kota; juga tentang
materi dakwah apa yang cocok dengan masyarakat transisi.
c.
Pejabat-pejabat
dalam bidang agama. Yang dimaksud dengan pejabat dalam bidang agama adalah
aparatur pemerintah yang mengurus agama, dari Menteri Agama, Direktrur
Jenderal, Direktur, Kepala Kantor Wilayah, Kepala Bidang, Kepala Bagian, Kepala
Kantor Departemen Agama Kabupaten, para penyuluh, petugas KUA, Amil dan Lebe,
sampai Modin dan petugas perkuburan.
d.
Pengarang-pengarang
tulisan keagamaan. Misalnya pengarang tafsir kitab suci Al-Qur’an, tafsir
Bibel, pengarang ilmu kalam, pengarang buku fikih, pengarang cerita keagamaan,
penulisan sejarah Islam, dan penulisan syair-syair serta kesusastraan
keagamaan.
e.
Abangan
dan Santri. Kategori kesalehan yang biasa diberikan kepada penganut agama Islam
di pulau Jawa pada dasarnya terdiri dari pemeluk Islam yang abangan dan pemeluk
Islam yang santri. Kedua kategori itu mengacu pada tingkat komitmen
keberagamaan di kalangan pemeluk Islam di pulau Jawa Abangan diidentifikasi
sebagai pemeluk Islam “pengakuan” saja; artinya, mereka sangat sedikit
mengetahui tentang ajaran Islam dan
sedikit melaksanakan ajarannya. Sedangkan santri diidentifikasi sebagai pemeluk
Islam yang sangat “banyak” pengetahuannya tentang Islam dan taat
melaksanakannya. Menarik untuk diteliti perbedaan kehidupan keagamaan antara
masyarakat kecil yang abangan dan masyarakat kecil yang santri, antara kalangan
atas yang abangan dengan kalangan atas yang santri. Atau penelitian tentang
berbagai perbedaan kesempatan melaksanakan ajaran agama bagi awam santri dengan
priyayi santri, antara awam abangan dengan priyayi abangan.
f.
Awam
dan terpelajar: Perbedaan pengetahuan tentang ajaran agama melahirkan dikotomi
kategori awam dan terpelajar. Kehidupan beragama diantara keduanya sangat
mencolok perbedaannya. Kalangan awam biasanya lebih tekstual, lebih
menitikberatkan pada pengalaman. Berbeda dengan kalangan terpelajar; mereka
lebih banyak membicarakan interpretasi ajaran sehingga lebih cenderung
berdiskusi daripada melaksanakannya.[12]
e.
Agama
Konghucu
Khongcu atau
Khongchucu yang artinya ‘guru Khong’ dilahirkan pada 551 SM di desa Chiang
Ping, kota Coo lep. Negeri Lo (sekarang Qufu, propinsi Shandong) ketika Raja
muda Lo Siang Kong berkuasa pada usia 22 tahun, dan pada masa pemerintahan
Kaisar Ciu Ling Ong dari Dinasti Ciu. Riwayat hidup Khonghucu yang rinci
terdapat didalam kitab Shi Chi bab 47 atau Kitab Catatan-catatan Sejarah Karya
Ssuma Chi’en. Di dalam kitab ini diceritakan bahwa leluhurnya termasuk keluarga
bangsawan penguasa negeri Song, yang merupakan keturunan raja-raja Dinasti
Siang, suatu dinasti yang berkuasa sebelum Dinasti Ciu. Karena terjadi
kekacauan politik, leluhurnya kehilangan kedudukan kebangsawaannya dan pindah
ke negeri Lo.
Tanpa Khongcu,
negeri Lo kembali kacau, dan kewibawaannya semakin merosot. Khongcu sangat
terluka melihat negerinya hancur. Maka ia mulai mengembara dari satu negeri ke
negeri lainnya selama 13 tahun. Selama pengembaraannya Khongcu banyak
mengajarkan ajarannya kepada raja-raja dan bangsawan mengaguminya. Un tuk
mengenal ajarannya, cara yang paling baik adalah dengan membaca kitab Lun Yu
(Bunga ajaran Konfisius yang dibubukan oleh murid-muridnya.
Beberapa konsep
penting dalam ajaran Konfusius:
1.
Meluruskan
Nama-nama- Zheng Ming
2.
Cinta
kasih – Ren
3.
Kebenaran
– Yi
4.
Kesusilaan
– Li
5.
Bijaksana
– Zhi
6.
Layak
dipercaya – Xin
7.
Setia
dan tepa slira – Zhong Shu
8.
Hokum
Ketuhanan – Tian Li
9.
Takdir
-Tan Ming
10.
Manusia
Budiman -Jun Zi[13]
11.
Dll.
Weber sangat
tertarik mengkaji birokrasi di masyarakat Barat dan di dunia peradaban lainnya.
Dia melihat kecenderungan agama dikalangan birokrat yang “secara klasik
dirumuskan dalam faham Kong Hu Cu (Confucianism) akibatnya, walaupun menarik
secara estetika, adalah sikap opportunistis dan utilitarian. Ini merupakan
badan konvensi yang memperlihatkan “tidak adanya perasaaan butuh bagi
keselamatan atau atau bagi setiap penempatan transenden bagi etika” agama
personal yang sifatnya emosional cenderung dihilangkan. Menurut Weber di China
pejabat menjunjung tinggi upacara menghormati (ritus) arwah leluhur dan
orang-orang tua demi : terpeliharanya tertib sosial, tetapi sungguh dirasakan
adanya jarak tertentu dari roh.
Weber menemukan
kelas buruh industry modern di Eropa memperlihatkan pra-disposisi bagi doktrin
keselamatan, tetapi lebih sering bersifat semu-agama ketimbang bersifat agama.
“dalam lingkungan rasionalisme proletary, agama pada umumnya digantikan oleh
ideologi lainnya.
Max menyebut
kelas buruh Eropa sebagai “proletariat”, yang dimaksudnya dengan istilah ini
ialah kelas yang tidak memperoleh “bagian” dalam system sosial yang ada. Buruh
pekerja dan hidup di suatu masyarakat di mana ia menjadi ajaran penyelamat
sekuler bagi sejumlah besar kelas buruh di masa pertengahan abad
kesembilan belas dan perang dunia kedua.[14]
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Manaf, Mudjahid. 1996. Sejarah Agama-Agama. Jakarta:
PT RajaGrafindo.
Djamari.
1993. Agama Dalam Perspektif Sosiologi. Bandung: CV ALFABETA.
Hartomo dan Arnicum. 2008. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: Bumi
Aksara.
Hidayatullah, Syarif. 2011. Studi Agama: Suatu Pengantar.
Yogyakarta: Tiara Wacana.
Kahmad, Dadang. 2002. Sosiologi Agama. Bandung: PT REMAJA
ROSDAKARYA.
Muchtarom,
Zaini. 2002. Islam Di Jawa Dalam Perspektif Santri dan Abangan. Jakarta:
SALEMBA DINIYAH.
NOTTINGHAM,
Elizabeth K. terj, Abdul Muis Naharong. 1996. Agama dan Masyarakat.
Jakarta: PT. RajaGrafindo.
O’DEA, Thomas F. terj, Yasogama. 1987. Sosiologi Agama.
Yogyakarta: CV. Rajawali.
[1] Djamari, Agama
Dalam Perspektif Sosiologi, (Bandung: CV ALFABETA, 1993), hlm.1
[3] Mudjahid Abdul
Manaf, Sejarah Agama-Agama, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996), hlm.
2
[4] Djamari, Agama
Dalam Perspektif Sosiologi, (Bandung: CV ALFABETA, 1993), hlm.14
[5] Elizabeth K.
Nottingham, agama dan masyarakat, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996),
hlm. 3
[6] Hartomo dan
arnicun aziz, Ilmu Sosial Dasar, (Jakarta: bumi aksara,2008), hlm.
194-195
[9] Djamari,
Agama Dalam Perspektif Sosiologis (Bandung: CV ALFABETA ), 113-114.
[10] Syarif
Hidayatullah, Studi Agama: Suatu Pengantar (Ypgyakarta: Tiara Wacana), 50-52.
[12] Dadang Kahmad,
Sosiologi Agama (Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA), 103-104.
[13] Syarif
Hidayatullah, Studi Agama (Yogyakarta: Tiara Wacana), 56.
[14] Thomas
F. O’dea, Sosiologi Agama (Jakarta: RAJAWALI PERS), 111-112.
Comments
Post a Comment