Hubungan Agama dan Stratifikasi Sosial



Nurun Nadzifah (16110047), Zuhrotun Nisa’ (16110076)
Mahasiswa UIN Maliki Malang


Abstract
The sociology of religion is two interesting contexts of discussion which unite between sociology and religion. Sociology means learning social activity whereas religion means that both religions have special relevance in life. The existence of the fact that society consists of various social layers that can indicate the high level of society in a particular group or community. In this case the layers of society in the religious view or can be called with the religious community occurs on the encouragement of several factors. Specific formative factors such as heredity, mastery of religious science, the level of piety, the position in a religious institution and way of thinking and many others. Likewise with the religions that exist in Indonesia is also a variety of cultures, rules, customs are applied so that the community demands to follow. People who follow one religion must obey all the customs, especially in the social stratification that has been determined since the first.
Keywords: 5 Religion, social stratification
Abstrak
Sosiologi agama merupakan dua konteks pembahasan yang menarik dimana menyatukan antara sosiologi dan agama. Sosiologi berarti mempelajari aktifitas sosial sedangkan agama berarti religion hubungan kepada Tuhan keduanya mempunyai keterkaitan khusus dalam kehidupan. Adanya kenyataan bahwasannya masyarakat terdiri dari berbagai lapisan sosial yang dapat menunjukkan tinggi rendahnya kedudukan masyarakat dalam suatu kelompok atau masyarakat tertentu. Dalam hal ini lapisan masyarakat dalam pandangan agama atau bisa disebut dengan masyarakat agama terjadi atas dorongan beberapa faktor. Faktor formatif tertentu misalnya keturunan, penguasaan ilmu keagamaan, tingkat keshalehan, jabatan dalam suatu lembaga keagamaan serta cara berpikir dan masih banyak yang lain. Begitupun dengan agama-agama yang ada di indonesia juga bermacam ragam kebudayaan, aturan, adat yang diterapkan sehingga menuntut masyarakat untuk mengikutinya. Masyarakat yang menganut salah satu agama harus menaati semua adat yang ada terutama dalam stratifikasi sosial yang sudah ditentukan sejak dahulu.
Kata kunci: 5 Agama, stratifikasi sosial
A. Pendahuluan
Merupakan sebuah keyakinan akan adanya Tuhan sang pencipta alam semesta. Begitu indah anugerah yang diberikan kepada umatnya, dengan alasan inilah adanya sebuah agama. Negara Indonesia yang terkenal akan kekayaan sumber daya alam yang melimpah serta kebudayaan yang beragam tidak lepas dari peran masyarakat beragama. Agama mengajarkan kebaikan kepada seluruh penghuni alam untuk tidak hanya menikamti akan tetapi ikut merawat, menjaga serta melestarikan tanpa merusaknya.
Berbicara mengenai sebuah agama, Indonesia termasuk negara yang menganut banyak keyakinan. Bukti diakuinya keberadaan lima agama di Indonesia antara lain Islam, Kristen, Budha, Hindu, Konghucu. Menjadikan indonesia lebih beragam selain kebudayaan dan keanekaragaman sumber daya alam nya. Begitupun dalam bermasyarakat tidak lepas dari konteks beragama. Bahkan, dalam kajian sosiologi agama pun dibahas mengenai hal ini. Dua komponen yang tidak bisa terpisahkan karena sangat erat hubungannya dengan masyarakat sosial yang beragama.
Masyarakat sosial dan beragama tidak lepas dari istilah Social Stratification atau yang sering disebut dengan stratifikasi sosial. Membahas lapisan-lapisan yang ada di masyarakat, lapisan ini berupa kedudukan serta peran masyarakat sebagai umat beragama. Mulai dari jabatan, keluasan ilmu sampai peranan didalamnya turut diatur dalam hal ini.
B. Agama dalam pandangan sosiologis
Dalam definisinya pengertian agama tidak akan ada habisnya, sangat bermacam dalam berbagai sudut pandang. Akan tetapi kita tidak bisa mengatakan bahwasannya rumusan atau pengertian agama itu tidak perlu. Sebab, dalam definisi agama mengandung unsur yang sangat luas terutama dalam konteks kehidupan beragama. Tugas sosiologi agama bukan untuk mengartikan secara esensi metafisik agama, tetapi hanya mempelajari dari aspek sosialnya.[1] Pengertian ini dapat diperoleh jika seseorang mempunyai pengetahuan tentang subyeknya sosiologi dan agama. Kajian yang berusaha menemukan prinsip umum mengenai hubungan agama dan masyarakat hal inilah yang sering disebut sosiologi agama.[2]
Istilah pedoman hidup identik dengan arti sebuah agama meskipun masing-masing agama mempunyai definisi yang lain menegani hal ini. Contohnya saja didalam ajaran agama hindu “agama” mengandung pengertian satya, arta, diksa, tapa, brahma, dan yajna. Satya adalah kebenaran yang absolut. Arta adalah dharma atau perundang undangan yang mengatur hidup manusia. Diksa mempunyai arti penyucian. Tapa adalah semua perbuatan suci. Brahma adalah doa atau mantra-mantra.[3] Tidak hanya dalam pandangan agama hindu saja, melainkan agama-agama yang lain juga mempunyai arti serta makna dari agama itu sendiri.
Emile Durkheim mencoba mencari esensi agama dengan tidak mensyaratkan suatu kepercayaan. Menurutnya kesucian, dan perubahan sikap merupakan syarat bagi seseorang sebelum ia memasuki ritual keagamaan. Manusia dihadapkan dengan objek sakral atau berada dalam kondisi ritual keagamaan dalam kehidupan sehari-hari hal ini yang menyebabkan seseorang mengalami pergerseran psikologis dan durkheim mengambil kesimpulan bahwa tidak semua pengalaman yang menakjubkan serta sakral identik dengan karakter suatu agama.[4]
Agama berkaitan erat dengan keadaan masyarakat yang dapat mengukur usaha-usaha seberapa dalam makna dan keberadaannya dialam semesta ini. Agama telah menimbulkan khayalnya yang paling luas dan juga digunakan untuk membenarkan kekejaman orang yang luar biasa terhadap orang lain.[5]
C. Stratifikasi sosial
Stratifikasi sosial atau pelapisan sosial berasal dari kata stratus yang mempunyai arti lapisan atau berlapis-lapis sehingga dapat didefinisikan sebagai lapisan masyarakat. Dalam hal ini sering digunakan sebagai kiasan untuk menggambarkan bahwa dalam tiap kelompok terdapat perbedaan kedudukan seseorang dari yang berkedudukan tinggi sampai yang berkedudukan rendah. Seperti yang terjadi pada agama hindu antara lain brahmana, ksatria, waisya dan sudra. Pada masyarakat pedesaan di indonesia dijumpai orang-orang yang dianggap tergolong stratifikasi atas yaitu guru-guru, pamong desa, ulama yang berkedudukan sebagai key status pada lingkungan masing-masing. Tetapi dalam komunikasi mereka itu justru yang merupakan orang-orang yang menjadi teladan dan tempat bertanya bagi masyarakat.[6]
Macam-macam stratifikasi:
1)   Stratifikasi terbuka
Anggota kelompok yang satu ada kemungkinan besar untuk berpindah ke kelompok yang lain, artrinya dapat menurun ke kelompok yang lebih rendah atau sebaliknya. Contoh: kedudukan presiden dan menteri. Anak-anak presiden dan menteri belum tentu dapat mencapai kedudukan sebagai presiden atau menteri. Tetapi sebaliknya warga masyarakat pada umumnya ada kemungkinan dapat memiliki kedudukan  seperti tersebut diatas.
2)   Stratifikasi tertutup
Kemungkinan pindah seorang anggota kelompok dari golongan yang satu ke golongan yang lain kecil sekali, sebab biasanya sistrem ini didasarkan atas keturunan. Jadi misalnya anak-anak keturunan brahmana, dengan sendirinya akan tetap menjadi golongan brahmana, dan sebaliknya golongan sudra
Ditinjau dari segi psikologis kedua kelompok ini mempunyai keburukan dan kebaikan. Stratifikasi terbuka lebih dinamis (progresif), dan anggota-anggota mempunyai cita-cita hidup yang lebih tinggi. Stratifikasi tertutup bersifat statis, lebih-lebih golongan bawah dan kurang menunjukkan cita-cita yang tinggi. Sedangkan kelemahan stratifikasi terbuka ialah bahwa anggota-anggotanya mengalami kehidupan yang selalu tegang dan khawatir. Sehingga akibatnya lebih banyak mengalami ketegangan dan konflik-konflik jiwa lebih besar daripada kelompok tertutup.[7]
Dari apa yang diureaikan diatas, akhirnya dapat disimpulkan bahwa ukuran atau kriteria yang biasanya dipakai untuk menggolong-golongkan anggota masyarakat kedalam lapisan-lapisan sosial adalah sebagai berikut:
1.    Ukuran kekayaan: ukuran kekayaan (kebendaan) dapat dijadikan suatu ukuran; barangsiapa yang mempunyai kekayaan paling banyak, termasuk kedalam lapisan sosial teratas. Kenyataan tersebut, midsalnya berupa mobil pribadinya, cara-cara mempergunakan pakaian serta bahan pakaian yang dipakainya, kebiasaan untuk berbelanja barang-barang mahal, dan sebagainya.
2.    Ukuran kekuasaan: barangsiapa yang memiliki kekuasaan atau mempunyai wewenang terbesar, menempati lapisan sosial teratas.
3.    Ukuran kehormatan: ukuran kehormatan mungkin terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan atau kekuasaan. Orang yang paling disegani dan dihormati, mendapatkan atau menduduki lapisan sosial teratas. Ukuran semacam ini banyak dijumpai pada masyarakat tradisional. Biasanya mereka adalah golongan tua atau mereka
4.    Ukuran ilmu pengetahuan: ilmu pengetahuan diapakai ukuran oleh masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Ukuran ini kadang-kadang menyebabkan menjadi negatif, karena ternyata bahwa bukan ilmu pengetahuan yang dijadikan ukuran, akan tetapi gelar kesarjanaannya. Sudah tentu hal ini mengakibatkan segala macam usaha untuk mendapat gelar tersebut walaupun secara tidak halal.[8]
D. Hubungan Agama dan Stratifikasi Sosial
a.       Hindu
Kasta Brahmana mempunyai prioritas untuk memimpin ritus keagamaan dan berstatus tinggi dalam lapisan masyarakat. Adanya tinggi rendah kasta kadang-kadang menimbulkan pertanyaan maknawi, yang untuk orang lain sukar dimengerti. Misalnya, seorang dari kasta Sudra yang rajin, jujur, dianggap tidak layak untuk memimpin ritual keagamaan.
Moralitas ketidaksamaan sosial seperti itu dibenarkan oleh doktrin reinkarnasi agama Hindu, tentang nasib akhir individu secara spiritual. Tujuan spiritual dalam ajaran Hindu adalah penggabungan kembali jiwa individunya atau atman dengan jiwa dunia semesta atau Brahmana. Untuk mencapai tujuan itu individu ditentukan oleh dharma atau amalnya. Karmanya atau nasibnya pada setiap tingkat kehidupan dianggap sebagai hasil dari dharmanya dahulu sebelum ber-reinkarnasi.
Doktrin reinkarnasi mengajarkan bahwa seseorang individu yang meninggal , rohnya akan menjelma menjadi makhluk yang lebih tinggi atau lebih rendah derajatnya dari semula. Tinggi rendahnya derajat pada penjelmaan kehidupan kemudian, tergantung kepada baik buruknya dharma atau amalnya dahulu. Tampak jelas bahwa stratifikasi sosial di masyarakat Hindu mendapat dukungan atau pencerminan dari doktrin agamanya.
Contoh lain hubungan ajaran agama dengan stratifikasi sosial, Nampak pada kasus asumsi antropologis tentang superioritas orang kulit putih. Ketika asumsi ini di tentang orang, banyak orang Inggris juga orang Amerika berusaha mencari alasan moral dan pembenaran pada ayat Al-Kitab, yang menyatakan bahwa tuhan telah menciptakan berbagai ras manusia. Bahwa menurut kebijaksanaan Sang Pencipta, ras-ras itu diciptakan dengan tingkatan yang berbeda-beda[9].
b.      Agama Budha
Agama Buddha berasal atau lahir di negara India sebagai perwujudan terhadap agama Hindu. Pelopornya adalah Siddhartha Gautama yang dikenal sebagai Gautama Buddha oleh pengikut-pengikutnya. Ketika kali pertama mengajarkan agamanya, ia mendapatkan banyak pengikut. Hal ini dikarenakan  ia segera mengingat Agama Brahma sedang merosot pada saat itu. Masa kejayaan yang dialaminya ialah antara tahun 2000 hingga 800 M, kemunduran yang dialami ajaran agama Buddha yakni selama 4 abat berikutnya. Meskipun Agama buddha mengalami kemunduran dinegara kelahirannya, namun di luar India justru semakin berkembang dan masih kuat hingga saat ini, yakni di negara Thailand dan China.
Ajaran Buddha sampai ke negara China pada 399 M. oleh seorang sami bernama Fa Hsien. Masyarakat China mendapat pengaruh dari Tibet disertai penyesuaian dengan tuntutan dan niali setempat. Kitab rujukan utama penganut Buddha ialah Lotus Sutra dengan menjelma sebagai seorang tokoh yang diberi watak Kuan Yin yang berarti “mata cemerlang”. Ia diberi sifat-sifat keibuan, yakni penyayang dan lemah-lembut. Selain Kuan Yin, orang Cina juga mempunyai tokoh Buddha yang lain yaitu Amitabha atau Amida yang dianggap sebagai “Surga Barat” yang membawa kesejahteraan bagi penganutnya. Ini merupakan paham Buddha yang paling disukai oleh orang Cina.
Dari China, ajaran Buddha terus meluas ke Korea. Pada pertengahan abad V M mulai masuk ke Birma, kemudian Jepang, dan Thailand. Pada abad VII M Buddha masuk ke Indonesia (waktu itu melalui Sriwijaya), dan 1 abad berikutnya mulai masuk ke tanah Jawa.
Diantara ajarannnya adalah:
1.    Buddha bukan satu bentuk kepercayaan tetapi lebih merupakan ajaran falsafah karena tidak ada konsep ketuhanan dan persoalan ghaib, kecuali bagaimana untuk menyerapi hidup tanpa bermasalah.
2.    Penganutnya diwajibkan menjalani kehidupan sebagai sami untuk satu tempo tertentu dalam hidup mereka. Mereka tidak dibenarkan berkawin, dan perlu menjalani hidup sebagai rahib.
3.    Perempuan boleh menjadi rahib.
4.    Bertapa di kuil dengan menjadi sami atau rahib merupakan alternative bagi masalah yang tidak terselesaikan.
5.    Agama Buddha dijadikan alat pelarian atau escapis.
6.    Mereka merayakan Hari Raya Waisak.[10]

c.    Agama Nasrani
Istilah Nasrani berasal dari nama Kota Nazareth. Dalam bahasa Arab kata tersebut disebut Nashirah, yaitu sebuah desa terpencil di kaki sebuah bukit sebelah selatan Yerusallem. Di Yerusallem inilah terletak Baitul Maqis yang dianggap sebagai rumah suci bersejarah baik bagi umat Islam, Yahudi, maupun Nasrani sendiri. Agama Nasrani juga disebut Agama Nazareth karena ia dibawa oleh Yesus yang berasal dari Nazareth. Agama ini juga disebut Agama Kristen. Nama tersebut diambil dari nama Kristus yang merupakan gelar kehormatan keagamaan bagi Yesus. Kristus merupakan Bahasa Yunani, dari perkataan Messias dalam Bahasa Ibrani, yang berarti “yang diurapi”. Istilah ini berasal dari kebiasaan Israil kuno yang tidak memahkotai raja-raja, namun cukup dengan mengurapinya. Pengangkatan kehormatan raja ini dilakukan atas perintah Yahweh. Yahweh merupakan Tuhan dari Bangsa Agama Nasrani dirisalahkan kepada Nabi Isa a.s yang secara nasab merupakan anak Maria (Maryam) dari suku Bani Yuda, dan berasal dari keturunan Nabi Dawud. Menurut Injil atau perjanjian baru, ayah Nabi Isa adalah Yusuf an-Najar, dan bahwa ia hamil dari Ruhul Kudus. Isa diangkat menjadi Rasul dalam usia 30 tahun. Bangsa Yahudi banyak yang tidak mempercayai kebenaran risalahnya, sehingga mereka memutuskan memutuskan Isa al-Masih harus dihukumi mati dan menyerahkan hukumannya kepada para Pontius Pilatus, Gubernur Romawi. Isa al-Masih akhirnya mati disalib di sebuah tempat bernama Golgota. Berbeda sengan Injil, al-Qur’an menyatakan bahwa yang mati disalib adalah bukan Isa al-Masih sendiri namun orang lain yang diserupakan (QS. An-Nisa’; 157). Ada pendapat dikalangan Muslim bahwa orang yang diserupakan tersebut bernama Yudas Israiliyat.
Pendeta-pendeta asing. Di kalangan agama Kristen baik Katolik maupun Prostestan terdapat banyak pendeta dan pastur dari bangsa asing, terutama dari Eropa dan Amerika. Para pendeta itu kadangkala menjadi pemimpin dalam keuskupan dan wilayah gerejani. Kehidupan mereka menarik untuk diteliti secara mendalam. Aspek-aspek kehidupan para pendeta asing yang bisa dijadikan focus penelitian, diantaranya peranan mereka dalam penyebaran agama Kristen di Indonesia, hubungan pendeta asing dengan pendeta pribumi, dan tanggapan umat Kristiani terhadap pendeta pendeta asing.[11]
Kitab suci yang disampaikan kepada Nabi Isa adalah Injil. Ajaran pokok Agama Nasrani, khususnya Katolik, yang ada sekarang adalah sebagaimana yang tersurat di dalam syahadat 12 (Credo para rasul), yaitu:
1.    Aku percaya akan Allah , Bapa yang mahakuasa, pencipta langit dan bumi.
2.    Dan akan Yesus Kristus, Puteranya yang tunggal Tuhan kita.
3.    Yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh perawan Maria.
4.    Yang menderita sengsara dalam pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, wafat dan dimakamkan.
5.    Yang turun ke tempat penantian, pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati.
6.    Yang naik ke surge duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang Mahakuasa.

d.   Agama Islam
Islam adalah agama yang dirisalahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Muhammad lahir pada 571 M di kota Mekkah. Setelah berusia 40 tahun, Muhammad diangkat menjadi seorang rasul melalui wahyu yang disampaikan oleh malaikat Jibril. Setelah diangkat sebagai rasul pembawa syariat Allah. Muhammad menyiarkan Agama Islam kepada kaumnya di Jazirah Arab. Secara perlahan Islam kemudian menyebar kesegala penjuru belahan dunia hingga sekarang.
Kitab suci Agama Islam adalah al-Qur’an yang mengandung hal-hal yang berhubungan dengan:
1.    Tauhid; Yakni kepercayaan kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari kiamat, serta Qodha dan Qadar.
2.    Pekerjaan hati dan gerak-gerak yang mendorong kea rah kesempurnaan budi pekerti yang luhur.
3.    Hal-hal yang berhubungan dengan pengabdian anggota jasmani, yang berhubungan dengan hokum-hukum segala perintah Allah dan segala larangan-Nya.
Berbagai peranan dalam keagamaan
a.       Ulama atau pendeta, sebagai pemimpin agama, tentu mempunyai kharisma dan kewibawaan yang tecermin dari adanya ketaatan umat dalam melaksanakan perintah agama. Setiap pemimpin agama akan mempunyai interpretasi yang khas tentang ajaran agamanya. Maka penelitian terhadap variasi pemikiran pemimpin agama tersebut merupakan hal yang menarik.
b.      Peranan pengajar agama dan ahli dakwah. Pengajar agama adalah orang yang mempunyai kekhususan dalam bidang pengalaman keagamaan. Mereka mempunyai status tertentu di masyarakat; latar belakang Pendidikan pengajar agama akan berpengaruh terhadap keberhasilan kerjanya. Penelitian bisa dilakukan, misalnya, terhadap juru dakwah yang disenangi masyarakat desa atau masyarakat kota; juga tentang materi dakwah apa yang cocok dengan masyarakat transisi.
c.       Pejabat-pejabat dalam bidang agama. Yang dimaksud dengan pejabat dalam bidang agama adalah aparatur pemerintah yang mengurus agama, dari Menteri Agama, Direktrur Jenderal, Direktur, Kepala Kantor Wilayah, Kepala Bidang, Kepala Bagian, Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten, para penyuluh, petugas KUA, Amil dan Lebe, sampai Modin dan petugas perkuburan.
d.      Pengarang-pengarang tulisan keagamaan. Misalnya pengarang tafsir kitab suci Al-Qur’an, tafsir Bibel, pengarang ilmu kalam, pengarang buku fikih, pengarang cerita keagamaan, penulisan sejarah Islam, dan penulisan syair-syair serta kesusastraan keagamaan.
e.       Abangan dan Santri. Kategori kesalehan yang biasa diberikan kepada penganut agama Islam di pulau Jawa pada dasarnya terdiri dari pemeluk Islam yang abangan dan pemeluk Islam yang santri. Kedua kategori itu mengacu pada tingkat komitmen keberagamaan di kalangan pemeluk Islam di pulau Jawa Abangan diidentifikasi sebagai pemeluk Islam “pengakuan” saja; artinya, mereka sangat sedikit mengetahui  tentang ajaran Islam dan sedikit melaksanakan ajarannya. Sedangkan santri diidentifikasi sebagai pemeluk Islam yang sangat “banyak” pengetahuannya tentang Islam dan taat melaksanakannya. Menarik untuk diteliti perbedaan kehidupan keagamaan antara masyarakat kecil yang abangan dan masyarakat kecil yang santri, antara kalangan atas yang abangan dengan kalangan atas yang santri. Atau penelitian tentang berbagai perbedaan kesempatan melaksanakan ajaran agama bagi awam santri dengan priyayi santri, antara awam abangan dengan priyayi abangan.
f.       Awam dan terpelajar: Perbedaan pengetahuan tentang ajaran agama melahirkan dikotomi kategori awam dan terpelajar. Kehidupan beragama diantara keduanya sangat mencolok perbedaannya. Kalangan awam biasanya lebih tekstual, lebih menitikberatkan pada pengalaman. Berbeda dengan kalangan terpelajar; mereka lebih banyak membicarakan interpretasi ajaran sehingga lebih cenderung berdiskusi daripada melaksanakannya.[12]
e.    Agama Konghucu
Khongcu atau Khongchucu yang artinya ‘guru Khong’ dilahirkan pada 551 SM di desa Chiang Ping, kota Coo lep. Negeri Lo (sekarang Qufu, propinsi Shandong) ketika Raja muda Lo Siang Kong berkuasa pada usia 22 tahun, dan pada masa pemerintahan Kaisar Ciu Ling Ong dari Dinasti Ciu. Riwayat hidup Khonghucu yang rinci terdapat didalam kitab Shi Chi bab 47 atau Kitab Catatan-catatan Sejarah Karya Ssuma Chi’en. Di dalam kitab ini diceritakan bahwa leluhurnya termasuk keluarga bangsawan penguasa negeri Song, yang merupakan keturunan raja-raja Dinasti Siang, suatu dinasti yang berkuasa sebelum Dinasti Ciu. Karena terjadi kekacauan politik, leluhurnya kehilangan kedudukan kebangsawaannya dan pindah ke negeri Lo.
Tanpa Khongcu, negeri Lo kembali kacau, dan kewibawaannya semakin merosot. Khongcu sangat terluka melihat negerinya hancur. Maka ia mulai mengembara dari satu negeri ke negeri lainnya selama 13 tahun. Selama pengembaraannya Khongcu banyak mengajarkan ajarannya kepada raja-raja dan bangsawan mengaguminya. Un tuk mengenal ajarannya, cara yang paling baik adalah dengan membaca kitab Lun Yu (Bunga ajaran Konfisius yang dibubukan oleh murid-muridnya.
Beberapa konsep penting dalam ajaran Konfusius:
1.        Meluruskan Nama-nama- Zheng Ming
2.        Cinta kasih – Ren
3.        Kebenaran – Yi
4.        Kesusilaan – Li
5.        Bijaksana – Zhi
6.        Layak dipercaya – Xin
7.        Setia dan tepa slira – Zhong Shu
8.        Hokum Ketuhanan – Tian Li
9.        Takdir -Tan Ming
10.    Manusia Budiman -Jun Zi[13]
11.    Dll.
Weber sangat tertarik mengkaji birokrasi di masyarakat Barat dan di dunia peradaban lainnya. Dia melihat kecenderungan agama dikalangan birokrat yang “secara klasik dirumuskan dalam faham Kong Hu Cu (Confucianism) akibatnya, walaupun menarik secara estetika, adalah sikap opportunistis dan utilitarian. Ini merupakan badan konvensi yang memperlihatkan “tidak adanya perasaaan butuh bagi keselamatan atau atau bagi setiap penempatan transenden bagi etika” agama personal yang sifatnya emosional cenderung dihilangkan. Menurut Weber di China pejabat menjunjung tinggi upacara menghormati (ritus) arwah leluhur dan orang-orang tua demi : terpeliharanya tertib sosial, tetapi sungguh dirasakan adanya jarak tertentu dari roh.
Weber menemukan kelas buruh industry modern di Eropa memperlihatkan pra-disposisi bagi doktrin keselamatan, tetapi lebih sering bersifat semu-agama ketimbang bersifat agama. “dalam lingkungan rasionalisme proletary, agama pada umumnya digantikan oleh ideologi lainnya.
Max menyebut kelas buruh Eropa sebagai “proletariat”, yang dimaksudnya dengan istilah ini ialah kelas yang tidak memperoleh “bagian” dalam system sosial yang ada. Buruh pekerja dan hidup di suatu masyarakat di mana ia menjadi ajaran penyelamat sekuler bagi sejumlah besar kelas buruh di masa pertengahan abad kesembilan  belas dan perang dunia kedua.[14]
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Manaf, Mudjahid. 1996. Sejarah Agama-Agama. Jakarta: PT RajaGrafindo.
Djamari. 1993. Agama Dalam Perspektif Sosiologi. Bandung: CV ALFABETA.
Hartomo dan Arnicum. 2008. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: Bumi Aksara.
Hidayatullah, Syarif. 2011. Studi Agama: Suatu Pengantar. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Kahmad, Dadang. 2002. Sosiologi Agama. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA.
Muchtarom, Zaini. 2002. Islam Di Jawa Dalam Perspektif Santri dan Abangan. Jakarta: SALEMBA DINIYAH.
NOTTINGHAM, Elizabeth K. terj, Abdul Muis Naharong. 1996. Agama dan Masyarakat. Jakarta: PT. RajaGrafindo.
O’DEA, Thomas F. terj, Yasogama. 1987. Sosiologi Agama. Yogyakarta: CV. Rajawali.




[1] Djamari, Agama Dalam Perspektif Sosiologi, (Bandung: CV ALFABETA, 1993), hlm.1
[2] Djamari, Ibid, hlm. 3
[3] Mudjahid Abdul Manaf, Sejarah Agama-Agama, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996), hlm. 2
[4] Djamari, Agama Dalam Perspektif Sosiologi, (Bandung: CV ALFABETA, 1993), hlm.14
[5] Elizabeth K. Nottingham, agama dan masyarakat, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996), hlm. 3
[6] Hartomo dan arnicun aziz, Ilmu Sosial Dasar, (Jakarta: bumi aksara,2008), hlm. 194-195
[7] Hartomo dan arnicun aziz, Ibid. hlm. 202
[8] Hartomo dan arnicun aziz, Ibid, hlm. 203
[9] Djamari, Agama Dalam Perspektif Sosiologis (Bandung: CV ALFABETA ), 113-114.
[10] Syarif Hidayatullah, Studi Agama: Suatu Pengantar (Ypgyakarta: Tiara Wacana), 50-52.
[11] Dadang Kahmad, Sosiologi Agama (Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA), 103-104.
[12] Dadang Kahmad, Sosiologi Agama (Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA), 103-104.
[13] Syarif Hidayatullah, Studi Agama (Yogyakarta: Tiara Wacana), 56.
[14] Thomas F. O’dea, Sosiologi Agama (Jakarta: RAJAWALI PERS), 111-112.

Comments

Popular posts from this blog

CERPEN

METODE TAFSIR