Kenali Perbedaan Gaya Belajar Siswa

Setiap individu dianugerahi oleh tuhan kemampuan yang luar biasa. Kemampuan itu kini dapat diasah di sekolah. Sekolah mempunyai fasilitas yang mendukung dalam berkarya. Salah satunya adalah Guru yang dapat menjadi wadah mereka dalam berkarya, karena mereka akan mendapatkan bimbingan. Akan tetapi, disini guru tidak melulu menuntun mereka. Kadang kala mereka harus dilepas agar bisa belajar secara mandiri. Seorang siswa mempunyai gaya belajar yang relative hampir tidak ada yang sama. Hal ini yang menjadi pekerjaan rumah bagi para guru untuk mengenali gaya belajar para siswanya. Didalam buku Psikologi Pendidikan karya muhammad irham dan novan ardy wiyana mengutip salah satu tokoh yakni horney dalam sugihartono dkk (2007:54-55) terdapat lima gaya belajar siswa diantaranya:

Pertama, Modalitas Belajar
Dalam model yang pertama ini, dalam belajarnya siswa lebih cenderung memilih kenyamanan dalam belajar. Contoh: siswa A hanya bisa belajar dengan mendengarkan saja atau melihat saja. Jadi, mereka hanya melakukan aktifitas fisik saja dalam hal ini. Adapun modalitas indra yang sering digunakan adalah mata, telinga, sentuhan, dan kinestetik/gerak tubuh.

Kedua, Belajar sosial. Model kali ini lebih banyak melakukan interaksi kepada orang lain selama belajar. Contoh: siswa B lebih senang ketika belajar kelompok bersama-sama temannya. Ia lebih memahami materi yang disampaikan ketika belajar bersama teman-temannya.

Ketiga, Lingkungan belajar. Salah satu model yang kebanyakan anak usia dibawah lima tahun dalam belajarnya menggunakan gaya belajar yang seperti ini. Mereka lebih antusias ketika lingkungan belajar yang mereka inginkan sangat sesuai dengan apa yang diharapkan. Contoh: terdapat kondisi ruangan, pencahayaan, tata kelas yang sangat menarik. Bahkan siswa yang memilih model ini cenderung bisa belajar dimanapun tidak harus diruangan. Sesuai dengan lingkungan yang mereka inginkan.

Keempat, Emosi belajar. Mendengar kata emosi yang muncul dalam benak kita pasti kata “marah”. Disini emosi yang dimaksudkan adalah emosi positif yang dimuculkan ketika proses pemebalajaran secara berlansung. Dalam hal ini terdapat perbedaaan dalam lingkungan salah satunya yang dapat mempengaruhi motivasi serta tanggung jawab individu dalam belajar.

Kelima, Belajar global dan analitik. Terdiri dari dua kata global dan analitik yang mempunyai makna tak sama, akan tetapi hal ini dapat disinkronkan. Dalam kategori belajar global mereka lebih memilih belajar secara luas, mengamati secara komprehensif, dan berorientasi pada kelompok. Jadi gaya belajar mereka menyeluruh. Untuk yang analitik, cenderung mengategorikan secara sempit atau terpusat. Belajar individu yang menekankan pada penguasaan materi yang hanya per bagian saja.

Dengan bantuan penjelasan yang sudah di uraikan diatas, ibu bapak guru dapat dengan mudah mengetahui gaya belajar para siswa dan memudahkan untuk menentukan strategi pembelajaran yang seperti apa yang akan digunakan.

Terimakasih sudah membaca artikel saya sampai akhir. Semoga bermanfaat.

Comments

Popular posts from this blog

CERPEN

METODE TAFSIR