CERPEN


KISAH AISYAH
Gadis remaja dari kota Malang Jawa Timur, dia adalah Aisyah Nadhia. Remaja berusia 17 tahun yang sedang menempuh pendidikan di salah satu sekolah ter-Nama di kota Malang. Duduk dibangku kelas 3 SMA. Hidup bersama kedua orang tua yang sangat menyayangi dirinya diwaktu dia masih kecil. Tapi sayang, kini dia menjadi gadis yang sangat malang ketika ditinggal oleh ibunya. Dia menjadi remaja yang kurang akan kasih sayang. Ayah yang selalu sibuk menjadi anggota Dewan memaksa dirinya untuk hidup mandiri. Hingga suatu ketika pada saat ia sedang termenung sendiri di teras rumah ada seseorang yang menghampirinya. Dia adalah teman Aisyah. Dian namanya.
“Sore Sya..”. Sapa Dian kepada Aisyah sambil berjalan menghampirinya.
Aisyah tetap tak menjawab sapaan Dian. Dia sedang melamun, entah apa yang dia lamunkan. Terlihat seperti orang yang tak punya semangat hidup lagi. Sampai akhirnya Dian pun duduk dan menepuk bahu Aisyah dan berkata,
“hey kok kamu ngelamun sih, jalan yuk mumpung hari libur nih daripada di rumah bosenin tau”. Dian menegaskan keinginannya kepada Aisyah
“gak ada mood buat jalan-jalan” sahut Aisyah dengan wajah datar
“kamu kenapa kok semenjak ditinggal ibu mu sikap dan tingkah laku mu jadi kek gini gak seperti biasanya sya”. Dian penasaran
“gak apa-apa kok lagi gak mood aja. Sory yah aku lagi gak enak badan sebaiknya kamu pulang. Daripada disini kamu yah ngapain?”. Jawab Aisyah
“yaudah kalo gitu, aku gak akan maksa kamu buat ikut jalan sama aku kok, baik-baik dirumah ya sya. Semoga cepet sembuh aku balik dulu”. Dian pun akhirnya pergi meninggalkan aisyah.
Sore itu memang Aisyah sedang sendiri di rumah ayah nya tidak lagi pulang ke rumah karena tugas luar kota. Aisyah sangat merindukan keluarganya yang dulu. hari-hari dimana dia dan keluarganya berkumpul sore menikmati secangkir teh hangat dengan suasana pegunungan yang begitu elok. Kini secangkir teh hangat itu hanya bisa ia nikmati sendiri di ruang tamu tanpa ditemani ayah dan ibunya.
“Ayah, ibu Aisyah rindu”. Sambil meneteskan air mata. Aisyah begitu merasa kesepian tanpa kehadiran keduanya. Ibu yang sudah tiada ditambah dengan ayah yang jarang pulang membuatnya semakin merasa kesepian.
Pagi itu sangat cerah. Burung-burung berkicauan menyambut tebitnya sang surya dari ufuk timur.  Hari ini ada ujian di sekolah, Aisyah bergegas pergi karena matahari terlihat sudah mentereng. Dengan berbekal sepeda motor ia pun lansung meluncur ke sekolah. Tanpa berpamitan dengan siapapun. Yah, aisyah sadar kepada siapa harus berpamitan meskipun ia masih mempunyai ayah tapi ayah nya begitu tak memperdulikan keadaannya. Hari ini Aisyah mulai bangkit dari kesedihannya kemarin sore.
Di sekolah Aisyah terlihat lebih baik dan sumringah ia bertegur sapa dengan semua guru dan teman-temannya tak terkecuali dengan Dian. Dian begitu senang ketika melihat temannya sudah kembali seperti sediakala remaja yang ceria, penuh semangat, penuh dengan ke optimisan dalam hidupnya. Aisyah segera menghampiri Dian yang berada di teras depan kelas.
“Selamat pagi Dian?”. Sapa Aisyah.
“oo Aisyah selamat pagi jugaaaa.. kelihatannya, kamu lagi seneng banget hari ini. kan hari ini ada ujian, malah gak ada sedih-sedihnya siih” Tanya Dian
“hei Dian yah ngapain harus sedih harus semangat dong!”. Aisyah berusaha memberi semangat kepada Dian. Walaupun sebenarnya ia pun sama seperti dian tidak siap dan tidak ada semangat untuk menjalani ujian hari ini.
“Dian ayo ke kelas udah mau di mulai tuh ujiannya daripada entar kita telat. Eh waktunya kepotong terus gak bisa nyontek hahaha.. bercanda Dian”. Dian tercengang mendengarkan ucapan yang keluar dari mulut aisyah. Dan ternyata hal itu hanya guyonan belaka. Keduanya lansung bergegas menuju kelasnya.
Hari ini ujian di mulai pukul tujuh tepat. Pengawas mulai membagikan lembar soal dan jawaban kepada peserta ujian. “kkkrrriiiiiingggg...”. Bel tanda ujian telah di mulai. Semua peserta ujian bergegas untuk mengerjakan soal yang telah dibagikan. Suasana kelas sangat hening semua khusyu’ mengerjakan soal yang diberikan pengawas.
Dua jam berlalu...
“kkriiiing...”. Bel berbunyi tanda telah usai ujian. Dian menghampiri aisyah yang masih duduk di bangku ia mengajak aisyah untuk pergi ke kantin sekolah untuk membeli makanan. Akan tetapi apa yang terjadi aisyah menolak ajakan dari temannya itu. Ia memilih untuk pergi ke mushollah yang ada di sekolahnya untuk menunaikan sholat duha. Dian pun tak habis pikir tentang sikap aisyah yang susah untuk ditebak. Segeralah dian meninggalkan aisyah tanpa berkata apapun. Begitu pun dengan aisyah bergegas pergi guna melaksanakan sholat di masjid.
Sesampainya di masjid ia bertemu ustadz sahlan. Beliau adalah guru agama di sekolahnya beliau sangat agamis. Bertegur sapalah aisyah kepada beliau begitupun ustadz sahlan. Aisyah mengira bahwa gurunya akan menunaikan sholat ternyata tidak. Beliau melakukan kajian qur’an sendirian. Aisyah melihat dengan melongo. Ternyata masih ada guru yang seperti beliau dengan segudang kesibukannya mengajar beliau masih menyempatkan untuk membuka lembaran mushaf yang suci itu. Jam menunjukkan pukul 10.00 aisyah bergegas masuk kelas untuk memulai ujian jam kedua. Dan tak ia sangka pengawas yang masuk ke dalam ruangan kelasnya adalah ustadz sahlan.
“assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh” ucap ustadz
 “waalaikumsalam warahmatullah” serentak semua murid menjawab salam beliau.
Ditengah-tengah suasana mengerjakan soal ustadz sahlan sesekali memberikan tausiyah kepada peserta ujian agar mereka tidak tegang dalam mengerjakan. Beliau bercerita banyak tentang keagamaan. Disinilah Aisyah mulai sadar betapa indahnya hidup ini kalau mau mempelajari agama. Kuncinya adalah apapun masalah yang sedang di hadapi tetaplah curahkan kepada Allah SWT. Karena Dia lah yang maha segala-galanya.

Semoga menginspirasi. Selamat membaca

Comments

Popular posts from this blog

METODE TAFSIR