Biografi Khulafaur Rasyidin
BIOGRAFI
KHULAFAUR RASYIDIN
Oleh:
Nurun Nadzifah
Pendahuluan
Rasulullah Saw tidak pernah berwasiat kepada siapapun tentang siapa
yang akan menggantikan posisi beliau menjadi pemimpin umat islam setelah beliau
wafat. Pada dasarnya Rasulullah sepenuhnya memberikan amanah kepada seluruh
umat islam untuk memilih siapa yang berhak menggantikan posisi beliau. Sepeninggal
Rasulullah saw beberapa tokoh muhajirin dan anshar berkumpul untuk
mendiskusikan sosok pengganti Rasulullah Saw.[1]
Kota Madinah dipilih menjadi tempat berunding para kaum muhajirin dan ashar
dalam menentukan pemimpin pemerintahan. Proses musyawarah berjalan cukup
genting, dimana kedua pihak masing-masing mempunyai hak untuk mengajukan diri
menjadi pemimpin islam menggantikan Rasulullah.
Berakhirnya musyawarah penentu pengganti Rasulullah saw ditandai
dengan peristiwa Saqifah, dimana Abu Bakar di bai’at sebagai pemimpin islam
penenrus Rasulullah saw.
Khalifah
Abu Bakar As-Shiddiq
Beliau bernama Abdullah bin ustman bin amr ka’ab bin sa’ad bin
tamim bin murrah bin ka’ab bin lu’aib bin ghalib al Quraisyi at-Taimi, putera
dari Abu Quhafah akan tetapi terkenal dengan nama Abu Bakar As-Shiddiq. Julukan
Ash-Shiddiq diberikan kepada Abu bakar sebab beliau mempercayai akan adanya
peristiwa Isra’ Rasulullah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Lalu beliau
mengabarkan kepada orang-orang bahwa telah terjadi peristiwa isra’ maka
murtadlah sebagian orang yang tidak mempercayai rasulullah. Akan tetapi tidak
demikian terjadi pada Abu Bakar, beliau percaya bahwa peristiwa itu terjadi
dalam satu malam bahkan dalam hal yang lebih mustahil daripada itu senantiasa
membuat beliau mempercayai dengan berita langit yang datang setiap pagi dan
sore hari.[2] Nasabnya
berkumpul dengan nasab Rasulullah saw dalam kakeknya yang ke-enam yaitu yang
bernama Murrah ibn Ka’ab. Beliau dilahirkan selisih dua tahun dengan Rasulullah
saw.
Ayah Abu Bakar bernama Utsman bin Amir bin Amr atau sering dijuluki
Abu Quhafa. Ibunda Abu Bakar bernama
Salma binti Sakhr bin Amr julukannya adalah Ummul Khair. Beliau menikah
dengan empat wanita diantaranya Qutaylah binti Abd al- Uzza, Asma’ binti Umais,
Habibah binti Kharijah, Ummu Ruman binti Amir serta mempunyai enam orang anak
diantaranya Abdurrahman bin Abi Bakar, Abdullah bin Abi Bakar, Muhammad bin Abi
Bakar, Asma’ binti Abi Bakar, Aisyah Ummul Mukminin, Ummu Kultsum binti Abu
Bakar.[3]
Keistimewaan yang dimiliki oleh beliau adalah sifat lemah lembut,
baik dalam pergaulan, rendah hati dalam persaudaraan serta selalu mempunyai
hati yang berkasih-kasihan dan kasih sayang. Terhadap kaum Quraisy pun beliau
sangat dicintai sebab beliau sangat senang menolong orang yang lemah dan
membantu yang fakir.[4] Dalam
satu riwayat mengatakan bahwasannya kekayaan yang dimiliki oleh beliau sebesar
40.000 dirham akan tetapi setelah beliau masuk Islam kekayaannya habis hingga
tersisa hanya 5.000 dirham saja. Hal ini beliau lakukan untuk menolong fakir
miskin dan perjuangan Islam.[5] Abu
Bakar As-Shiddiq sangat loyal dan aktif dalam membantu Rasulullah berdakwah.
Keduanya sangat akrab, latar belakang persamaan profesi yakni sebagai seorang
pedagang. Selain itu, usia beliau tidak terpaut jauh bisa dikatakan sebaya.
Abu bakar menjadi pemimpin Umat Islam selama 2 tahun.
Khalifah
Umar Bin khattab
Gelar Al-Faruq diberikan kepadanya. Beliau adalah Umar bin
Al-Khattab bin Abd al-‘Uzza bin rabbah bin Abdullah bin Qurth bin Razah.[6] Nama
panggilan beliau adalah Abu Hafsh dan digelari Al-Faruq. Beliau dilahirkan
sesudah Rasulullah saw dengan selisih usia tigabelas tahun. Ayahnya bernama
Al-Khattab bin Nufail, ibundanya bernama Hantamah binti Hasyim bin al-Mughirah.
Beliau memiliki beberapa istri diantaranya zainab binti mazh’un, Mulaikah binti
jarwal, Quraibah binti Abi Umayyah, Ummu Hakim binti Al-Harits, Jamilah binti
Ashim, Atikah binti Zaid, Ummu Kultsum. Beliau hanya menceraikan satu istrinya
saja yang bernama Quraibah binti Abi Umayyah.[7]
Sosok yang pemberani, berwatak keras dan tidak mengenal gentar
dialah Umar. Beliau adalah salah satu orang yang sangat memusuhi pada islam
hingga kaum muslimin hijrah ke Habasyah. Akan tetapi, ketika beliau menyadari
akan keteguhan kaum muslimin mempertahankan agamanya hingga mau meninggalkan
negerinya serta engalami penderitaan disinilah Umar mulai menyadari dan masuk
islam.
Beliau menjadi tiang kekuatan bagi orang-orang islam.[8] Seorang
Umar bin Khattab yang memiliki karakter yang keras, kritis dan tegas. Akan
tetapi dibalik watak beliau ternyata mempunyai sifat mulia. Beliau seketika itu
menjadi orang yang mudah menangis ketika mendengarkan ayat-ayat suci Al-Qur’an
yang sedang dilantunkan. Perasaannya luluh terlebih saat wafatnya Rasulullah Saw.
Batinnya terasa
tergoncang dan melarang siapapun orang yang mau memandikan jasad Rasulullah Saw.
Beliau menganggap Rasulullah saw terpisah dengan ruhnya saja dan nanti pasti
kembali.[9]
Akhir
perjalanan hidupnya beliau meninggal sebab dibunuh oleh Abu Lu’luah ketika
beliau sedang menunaikan sholat subuh di masjid. Beliau wafat pada 25 Dulhijjah
23 H hari Rabu.
Khalifah Utsman
Bin Affan
Beliau adalah sosok yang mendermakan dan mewakafkan hartanya demi
kepentingan Islam, juga seorang saudagar besar dan kaya raya beliau adalah
Ustman bin Affan. Nama lengkapnya adalah Ustman bin Affan bin Abil ‘Ash bin
Ummayyah bin Abdusy Syams bin Abdu Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin
Ka’ab bin Luwa’i Bin Ghalib bin Fihr.[10] Abdul
Manaf adalah nama ayahnya, sedangkan ibundanya bernama Arwa binti Khuraiz.
Ustman dilahirkan selisih lima tahun dengan Rasulullah saw. Kedua istrinya adalah
putri Rasulullah saw, mereka adalah Ruqaiyyah dan Ummi Kultsum. Sebab itulah
beliau dijuluki Dzan nurain yakni orang yang mempunyai dua cahaya.
Utsman bin Affan memiliki akhlak yang mulia serta dermawan dan
terhormat. Sosok khalifah yang mau memberikan hartanya kepada orang lain dengan
maksud agar mendorong mereka lebih mendahulukan sesuatu yang bersifat abadi
daripada sesuatu yang bersifat sementara. Kisah utsman yang menafkahkan
hartanya dapat dilihat ketika Rasulullah saw membentuk Jaisyul ‘Usrah (Bala
Tentara saat Kesulitan) sewaktu perang
Tabuk. Beliau memberikan 950 ekor unta, 59 ekor kuda, dan 1000 dinar untuk
kepentingan logistik para pasukan tentara islam.[11]
Khalifah Ali
Bin Abi Thalib
Memiliki nama lengkap Ali Bin Abu Thalib Bin Abdul Mutthalib. Lahir
di makkah pada hari jum’at 13 rajab tahun 570 M selisih 32 tahun sesudah
Rasulullah saw dilahirkan. Beliau adalah putera paman rasulullah saw.[12]
Sejak kecil, beliau tinggal bersama Rasulullah saw se-rumah. Hal ini sengaja
dilakukan rasulullah karena ingin membalas jasa pamannya yang telah mengasuh
dan mendidik beliau pada masa muda. Ali bin abi thalib bisa dikatakan tidak
pernah hidup dalam kejahiliyaan sebab rasulullah selalu menunjukkan kepada ali
tentang suatu hal yang contohnya tidak boleh menyembah selain tuhan.[13]
Beliau aktif menghadiri peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah saw kecuali
perang tabuk. Ali adalalah anak muda yang pertama kali menyatakan dirinya masuk
islam. Istri beliau adalah putri Rasulullah saw yakni Fatimah.
Ali dikenal sebagai pejuang dan pahlawan islam dalam setiap
peperangan, yang beliau lakukan berduel dengan musuh dan menang, tidak pernah
absen berada di barisan paling depan, beiau sangat mahir memainkan pedang yang
tajam. Sejak kecil memang beliau sudah terdidik dengan budi pekerti islam, lidahnya
amat fasih berbicara wawasan serta pandangan pengetahuannya tentang islam
sangat luas dan mendasar.[14]
Beliau meninggal ketika usia 63 tahun serta menjabat sebagai
khalifah selama 4 tahun. Beliau dimakamkan di kufah.
Daftar
pustaka
Sadikin, Ali, Khalifah
Utsman Bin Affan Membebaskan Khurasan, SYAMINA 2016.
Abdul Jabbar,
Umar (penerjemah), Nurul Yaqin juz III, Surabaya: Awad Abdullah
Attamami.
Amin Thohari, Mohammad dkk, 2014, Sejarah Kebudayaan Islam
pendekatan saintifik kurikulum 2013, Jakarta: Kementrian Agama.
Ismail, Faisal. 2017, Sejarah dan Kebudayaan Islam,
Yogyakarta: IRCiSoD.
Muhammad As-Shallabi, Ali, 2017, Biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq,
Jakarta: Ummul Qura’.
Syukur Al-Azizi, Abdul, 2014, Kitab Sejarah Peradaban Islam,
Jogjakarta: Saufa.
[1] Abdul Syukur
Al-Azizi, Kitab Sejarah Peradaban Islam, (Jogjakarta: Saufa, 2014) hlm.
61
[2] Ali Muhammad
As-Shallabi , Biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq, (Jakarta: Ummul Qura’,
2017) hlm. 31
[4] Umar Abdul
Jabbar (Terj), Nurul Yaqin juz III, (Surabaya: Awad Abdullah Attamami),
hlm. 7
[5] Mohammad Amin
Thohari dkk, Sejarah Kebudayaan Islam pendekatan saintifik kurikulum 2013,
(Jakarta: Kementrian Agama, 2014), hlm. 107
[6] Muhammad
Ash-Shalabi, The Great Leader Of Umar Bin Khattab, (Jakarta: Pustaka
Al-Kautsar, 2008), hlm. 15
[7] Ibid,
hlm. 18
[8] Umar Abdul
Jabbar (Terj), Nurul Yaqin juz III, (Surabaya: Awad Abdullah Attamami),
hlm. 23-24
[9] Mohammad Amin
Thohari dkk, Sejarah Kebudayaan Islam pendekatan saintifik kurikulum 2013,
(Jakarta: Kementrian Agama, 2014), hlm. 109
[11] Faisal Ismail, Sejarah
dan Kebudayaan Islam, (Yogyakarta: IRCiSoD, 2017), hlm. 202
[12] Mohammad Amin
Thohari dkk, Sejarah Kebudayaan Islam pendekatan saintifik kurikulum 2013,
(Jakarta: Kementrian Agama, 2014), hlm. 110
Comments
Post a Comment